Prodi SPI FUAD IAIN Parepare – Seminar Kebudayaan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Sejarah Peradaban Islam (SPI) Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Parepare berlangsung semarak di Ballroom Laboratorium Terpadu IAIN Parepare, Jumat (12/6/2026). Mengusung tema “Reaktualisasi Nilai-Nilai Budaya Lokal sebagai Strategi Menghadapi Krisis Moral di Era Disrupsi,” kegiatan ini menghadirkan berbagai gagasan kritis mengenai tantangan moral masyarakat di tengah derasnya arus digitalisasi dan globalisasi.
Salah satu narasumber yang mendapat perhatian peserta adalah Kaprodi Sejarah Peradaban Islam (SPI), Saidin Hamzah, yang membawakan materi bertajuk “Akar Identitas: Membedah Falsafah Lokal sebagai Fondasi Etika Berbangsa.” Dalam paparannya, ia mengajak peserta untuk melihat kembali posisi budaya lokal bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sumber nilai yang relevan untuk menjawab berbagai persoalan moral bangsa saat ini.
Menurut Saidin, pembahasan mengenai akar identitas merupakan upaya dekonstruksi sekaligus rekonstruksi terhadap arah moralitas bangsa yang perlahan mengalami erosi akibat derasnya pengaruh globalisasi dan modernitas yang sering kali kehilangan dimensi nilai. Ia mengibaratkan bangsa Indonesia sebagai pohon besar yang hanya akan tetap kokoh jika memiliki akar yang menghunjam kuat pada tanah tempat ia tumbuh.
“Sebagaimana pohon yang tidak mungkin berdiri tegak tanpa akar yang kuat, etika berbangsa juga tidak boleh mengambang tanpa fondasi budaya yang kokoh. Di sinilah pentingnya memahami kembali falsafah lokal yang selama berabad-abad menjadi pedoman hidup masyarakat Nusantara,” ujarnya di hadapan peserta seminar.
Dalam analisisnya, Saidin menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai disorientasi etis. BangsaIndonesia, kata dia, telah berhasil mengadopsi berbagai sistem modern, mulai dari demokrasi hingga ekonomi global. Namun, di saat yang sama, masyarakat kerap melupakan substansi moral yang sesungguhnya hidup dalam tradisi dan kebudayaan lokal. Akibatnya, modernitas sering hadir hanya sebagai kemajuan teknologis tanpa diimbangi kematangan etika.
Ia juga mengkritisi kecenderungan menjadikan budaya lokal sekadar komoditas pariwisata atau instrumen politik simbolik. Padahal, esensi budaya tidak terletak pada pertunjukan seremonial semata, melainkan pada nilai-nilai yang membentuk karakter masyarakat. Ketika nilai-nilai tersebut terabaikan, maka yang muncul adalah pola hidup individualistis, pragmatis, dan semakin transaksional dalam berbagai aspek kehidupan sosial.
Lebih lanjut, Saidin menegaskan bahwa upaya membedah falsafah lokal bukanlah bentuk romantisasi masa lalu ataupun sikap regresif yang mengajak masyarakat kembali ke masa lampau. Sebaliknya, langkah tersebut merupakan usaha intelektual untuk menemukan kembali kompas moral yang telah teruji oleh perjalanan sejarah panjang Nusantara. Nilai-nilai lokal yang hidup di berbagai daerah dinilai mampu menjadi sumber inspirasi dalam membangun etika publik yang lebih berkeadaban.
Ia menjelaskan bahwa Nusantara sejatinya merupakan laboratorium besar kearifan lokal. Setiap suku dan daerah memiliki konsep etika yang mengajarkan penghormatan terhadap sesama manusia, keseimbangan hubungan dengan alam, tanggung jawab sosial, serta semangat gotong royong. Beragam nilai tersebut, apabila dirumuskan secara konstruktif, akan semakin memperkuat Pancasila sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam bagian penutup materinya, Saidin menyampaikan peringatan bahwa bangsa yang melupakan falsafah lokalnya berisiko menjadi bangsa imitasi yang rapuh. Bangsa seperti itu mudah terombang-ambing oleh pengaruh ideologi luar dan kehilangan orientasi moral dalam menghadapi perubahan zaman. Karena itu, menurutnya, tema “Akar Identitas” bukan sekadar slogan akademik, melainkan sebuah kebutuhan mendesak untuk memastikan Indonesia tetap memiliki pijakan nilai yang kuat di tengah berbagai tantangan global.
Seminar kebudayaan ini pun menjadi ruang refleksi yang penting bagi mahasiswa dan sivitas akademika IAIN Parepare. Melalui diskusi yang berlangsung dinamis, peserta diajak menyadari bahwa kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga akar identitas budaya sebagai fondasi etika yang menuntun arah perjalanan Indonesia di masa depan.
Penulis: Saidin Hamzah
Editor : Mifda Hilmiyah