Prodi SPI FUAD IAIN Parepare–Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Sejarah Peradaban Islam (SPI) Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Parepare sukses menyelenggarakan Seminar Kebudayaan bertema “Reaktualisasi Nilai-Nilai Budaya Lokal sebagai Strategi Menghadapi Krisis Moral di Era Disrupsi” pada, Jumat (12/6/2026). Kegiatan yang berlangsung di Ballroom Laboratorium Terpadu IAIN Parepare tersebut dihadiri oleh unsur pimpinan fakultas, dosen, mahasiswa, serta berbagai organisasi kemahasiswaan di lingkungan IAIN Parepare.
Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah Bidang Akademik, Kemahasiswaan, Kelembagaan, dan Kerja Sama, Ahmad Yani, yang hadir mewakili Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah. Turut hadir sebagai narasumber seminar, Musyarif, Ketua Program Studi Sejarah Peradaban Islam Saidin Hamzah l, membahas akar identitas membedah falsafah lokal sebagai fondasi etika berbangsa.
Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh dosen-dosen Program Studi Sejarah Peradaban Islam, Hj. Hasnani, Usman, Ketua DEMA dan SEMA Fakultas Ushuluddin yang mewakili organisasi kemahasiswaan fakultas, Ketua HMPS SPI beserta jajaran pengurus, pengurus HMPS se-lingkup IAIN Parepare, panitia pelaksana, serta para tamu undangan yang memenuhi ruang seminar.
Dalam sambutannya, Ahmad Yani menegaskan bahwa masyarakat Indonesia menghadapi ancaman serius berupa hilangnya identitas budaya dalam beberapa dekade mendatang apabila nilai-nilai budaya lokal tidak terus diwariskan kepada generasi muda. Menurutnya, seminar kebudayaan seperti ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat jati diri bangsa di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi.
“Lima puluh tahun ke depan kita terancam kehilangan identitas kita. Kegiatan seperti ini sangat penting sebagai upaya mengokohkan identitas dan karakter bangsa,” ungkapnya di hadapan peserta seminar.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kajian antropologi budaya sesungguhnya hadir untuk memahami sistem nilai yang hidup dalam masyarakat. Nilai-nilai tersebut menjadi pedoman dalam bertindak dan berperilaku. Ketika nilai budaya mulai ditinggalkan, masyarakat berpotensi mengalami kerapuhan sosial dan kehilangan arah dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, dampak yang paling mengkhawatirkan adalah munculnya mental inferior di kalangan generasi muda. Kondisi ini bahkan dinilai lebih berbahaya daripada mental masyarakat yang pernah mengalami penjajahan karena menyebabkan hilangnya rasa percaya diri terhadap identitas dan budaya sendiri.
“Banyak generasi muda yang mampu berbicara tentang isu-isu global, tetapi ketika berbicara tentang budaya sendiri justru seperti mengalami amnesia sejarah. Ini menjadi tantangan besar yang harus kita jawab bersama,” tegasnya.
Sementara itu, para narasumber menekankan bahwa budaya lokal bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sumber nilai yang relevan untuk membangun etika sosial, karakter kebangsaan, dan ketahanan moral masyarakat. Reaktualisasi budaya lokal perlu dilakukan melalui pendidikan, penelitian, digitalisasi budaya, serta penguatan ruang-ruang diskusi akademik yang melibatkan generasi muda.
Ketua HMPS SPI, Muh. Hairil, dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa seminar kebudayaan ini merupakan bagian dari komitmen mahasiswa Sejarah Peradaban Islam untuk menjaga dan mengembangkan khazanah budaya bangsa. Melalui kegiatan akademik semacam ini, mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen pelestarian budaya sekaligus pelopor penguatan identitas nasional di tengah era disrupsi.
Kegiatan seminar berlangsung dengan antusias. Para peserta aktif mengikuti sesi diskusi dan tanya jawab yang membahas berbagai persoalan budaya, identitas, dan moralitas generasi muda. Seminar menjadi momentum untuk membangkitkan kembali kesadaran kolektif akan pentingnya nilai-nilai budaya lokal sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara di masa depan.
Penulis: Saidin Hamzah
Editor: Mifda Hilmiyah